Menelaah Struktur dan Kebahasaan Teks Eksposisi
HALOO.... Anak-Anak!
Bagaimana kabar Kalian hari ini?
Hari ini kita akan belajar menelaah struktur dan kebahaaaan teks eksposisi.
Teks eksposisi juga punya struktur. Struktur teks eksposisi terdiri atas tesis, rangkaian argumen, dan penegasan ulang.
1. Pernyataan Umum atau Tesis
Bagian ini berfungsi untuk memperkenalkan topik sekaligus menempatkan pembaca pada posisi tertentu. Karena dengan teks yang digunakan penulis itu ingin mengemukakan pendapat, maka pembaca bisa berada pada posisi yang sependapat atau pada posisi yang bersebrangan dengannya.
2. Argumentasi atau alasan
Bagain dari teks Eksposisi adalah argumen atau alasan. Panjang dan pendeknya bagian ini tergantung pada jumlah argumen yang telah kalian kenalkan secara garis besar di dalam pernyataan umum, kemudian kalian menyebutkan ulang dan menjabarkan argumen tersebut dalam paragraf-paragraf. Pengembangan argumen menjadi paragraf ini dilakukan melalui penyajian contoh dan alasan.
3. Penegasan Ulang Pendapat (Simpulan)
Pengulangan tersebut dilakukan dengan berdasarkan pada argumen yang telah disajikan di dalam bagian sebelumnya. Pengulangan opini bersifat pilihan, sehingga tidak semua teks Eksposisi mempunyainya.
Berikut ini contoh teks eksposisi beserta strukturnya
Realita Hukum Di Indonesia
Tesis :
Dalam hal ini sebenarnya hukum yang ada di Indonesia sebagaimana yang telah diatur pada undang-undang telah secara tegas mengatur hukuman berbagai pelaku tindak kejahatan. Namun, realitanya seringkali terjadi ketidakadilan hukum yang merugikan banyak orang. Hukum boleh saja tegas, namun menjadi tumpul di hadapan koruptor.
Argumentasi:
Bukan rahasia umum lagi bahwa para koruptor di Indonesia mendapatkan hukuman yang tingkatannya masih tergolong ringan, bahkan ada koruptor yang menerima fasilitas mewah padahal sudah merugiakan bangsa. Seringkali kita menonton berita bahwa seorang maling dihajar masa hingga tewas. Namun belum pernah ada koruptor di Indonesia dikeroyok masa sampai tewas.
Penegasan Ulang:
Hukum di Indonesia itu bisa dikatakan hanya tegas di hadapan rakyat kecil. Sebut saja kasus yang pernah menimpa nenek asyani, kasusnya hanya karena diduga mencuri kayu, beliau terancam hukuman selam lima tahun penjara. Sungguh tidak adil memang jika dibandingkan dengan hukuman yang akan diterima koruptor.
Adapun teks eksposisi memiliki aspek kebahasaan yang membentuknya. Aspek kebahasaan tersebut antara lain:
1. Kata Sifat
Kata sifat digunakan untuk menerangkan sifat, keadaan, kondisi, watak, tabiat dari orang, benda atau binatang. Keterangan yang dijelaskan atau digambarkan oleh kata sifat dapat berupa kualitas, kuantitas, urutan maupun penekanan suatu kata.
jenis kata sifat yang bisa kalian ketahui. Dan berikut ini beberapa jenis kata sifat bahasa Indonesia yang bisa kalian ketahui:
Adjektiva pemberi sifat yaitu menyatakan kualitas dan intensitas yang bercorak fisik atau mental. Contoh: nyaman, rapi.
Adjektiva ukuran yaitu menyatakan kualitas yang dapat diukur dengan ukuran kuantitatif. Contoh: banyak, berat.
Adjektiva warna yaitu menyatakan berbagai warna. Contoh: biru, putih, pink.
Adjektiva waktu yaitu mengacu pada masa, proses, perbuatan/keadaan, berada/berlangsung. Contoh: sebentar, lama, segera.
Adjektiva jarak yaitu mengacu pada ruang/spasi antara dua benda atau tempat. Contoh: jauh, dekat.
Adjektiva sikap batin yaitu mengacu pada suasana hati/perasaan. Contoh: sedih, bahagia, bangga, malu.
Adjektiva cerapan yaitu mengacu pada sesuatu yang dapat dirasakan oleh panca indera. Contoh: manis, berisik, basah, bau, terang.
Adjektiva atributif adalah kata sifat yang menjadi subjek, objek atau penjelas subjek. Terletak di belakang/setelah kata benda. Contoh: payung hitam, tenda biru.
Adjectiva predikatif adalah kata sifat yang berkedudukan sebagai predikat. Contoh: Istana baru itu sangat megah.
Adjektiva adverbial adalah adjektiva yang merupakan keterangan atau pelengkap dari adjektiva utama. Adapun polanya yaitu: ... (dengan) + (se-) + adjektiva + (-nya) Contoh: Bersikaplah dengan sewajarnya.
Perulangan adjektiva. Contoh: Ingat baik-baik.
Adjektiva dasar (monomorfemis) yaitu kata sifat yang belum mengalami proses afiksasi atau penambahan imbuhan. Contoh : asam, cantik, tinggi.
Adjektiva turunan (polifermis) yaitu kata sifat yang sudah mengalami proses afiksasi atau penambahan imbuhan, pengulangan atau reduplikasi, penyerapan, dan pemajemukan.
Afiksasi (penambahan imbuhan) yaitu kata sifat yang sudah ditambah imbuhan. Prefiks: se- dan ter- (seperti: secantik, terbaik). Infiks : -em- (seperti : gemetar, gemuruh)
Reduplikasi (pengulangan) yaitu kata sifat yang terbentuk dari proses pengulangan/reduplikasi pada kata. Contoh: sebaik-baiknya, sepandai-pandainya, compang camping, gelap gulita, warna warni.
Kata sifat majemuk (pemajemukan) yaitu kata sifat yang terbentuk dari penggabungan kata yang membentuk makna baru atau makna konotasi yang merujuk pada sifat suatu benda atau objek.
2. Pronomina
Pronomina adalah kata-kata yang digunakan untuk mengganti panggilan pada orang atau benda. Seperti aku, engkau dan dia. Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Pronomina atau disebut juga Kata Ganti, merupakan jenis kata yang menggantikan frasa nomina, contohnya : saya, kapan, -nya. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pronomina adalah kata ganti untuk objek atau subyek tertentu.
Dalam bahasa Indonesia, pronomina atau kata ganti dikelompokkan dalam beberapa jenis, yaitu :
Kata Ganti Orang ( Pronomina Persona )
Seperti namanya, kata ganti orang/persona, yaitu kata ganti yang berfungsi untuk menggantikan nomina/panggilan seseorang. Kata ganti orang atau pronomina persona terbagi dalam 6 Jenis, yaitu :
Kata ganti orang pertama Tunggal, seperti : saya, aku.
Kata ganti orang pertama Jamak, seperti : kita, kami.
Kata ganti orang kedua Tunggal, seperti : engkau, kamu, anda.
Kata ganti orang kedua Jamak, seperti : kalian.
Kata ganti orang ketiga Tunggal, seperti : dia, beliau.
Kata ganti orang ketiga Jamak, seperti : mereka.
Kata Ganti Kepemilikan ( Pronomina Posesiva )
Adalah kata ganti yang digunakan untuk menyatakan kepunyaan/milik/kepemilikan, seperti : ku, mu, nya, mereka. Contoh :
Bukunya basah terkena tumpahan air minum.
Jam di rumahku rusak tersambar petir saat hujan lebat kemarin siang.
Athur, topimu tertinggal saat bermain layang-layang tadi.
Kata Ganti Petunjuk ( Pronomina Demonstrativa )
Kata ganti petunjuk digunakan untuk menunjuk suatu benda, lokasi atau tempat, entah itu berjarak jauh maupun dekat, seperti : ini, itu, sana, sini, begini, begitu. Contoh :
Banyak orang mengatakan, pohon itu angker.
Sejak diperbaiki, jalanan di sini menjadi lebih lebar dan nyaman dilalui.
Jika kamu rajin belajar begini, tentu nilaimu akan bagus.
Kata Ganti Tanya ( Pronomina Interogativa )
Kata ganti tanya adalah satu dari sekian banyak jenis kata ganti yang berfungsi sebagai kata tanya/ penanya/peminta informasi tertentu biasanya berupa peristiwa atau kejadian, seperti : apa, bagaimana, kapan, mengapa, siapa, dimana. Contoh :
Siapa orang yang berbicara denganmu itu ?
Mengapa kau tidak menjawab ketika dipanggilnya ?
Bagaimana jika kita mengambil semester pendek liburan nanti ?
Kata Ganti Penghubung ( Pronomina Relativa )
Kata ganti ini digunakan dan berfungsi menjadi penghubung antara 2 kalimat,
kalimat awal dan kalimat akhir, atau disebut juga induk kalimat dengan anak kalimat, seperti : yang. Contoh :
Mobil yang parkir di depan sekolah itu, mencurigakan.
Kereta api yang terlambat tadi pagi adalah jurusan jakarta-bogor.
Pemuda yang membantu kita kemarin itu ternyata guru olahraga di sekolah adikku.
Kata Ganti Tidak Tentu
Kata ganti yang digunakan untuk benda ataupun orang yang tak terbatas jumlahnya/Quantity (kemungkinan tidak diketahui). Sehingga kita dapat mengartikan kata ganti tidak tentu digunakan untuk menunjukan benda, kerumunan orang yang di dalamnya terdapat jumlah yang tidak menentu atau bisa jadi sangat banyak, seperti : seseorang, para, sesuatu, masing-masing. Contoh :
Anak-anak itu berlarian pulang ke rumahnya masing-masing.
Para orang tua berebutan kursi saat ajaran baru masuk sekolah.
Nanti sore, datanglah ke rumahku, aku punya sesuatu untukmu.
3. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal disebut juga kalimat sederhana. Tidak ada kata penghubung atau konjungsi dalam kalimat tunggal. Mengutip Yendra dalam buku Mengenal Ilmu Bahasa (2018), kalimat sederhana atau kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa atau satu kerangka yang menyusun klausa yang memberikan suatu makna utuh dalam ujaran tersebut. Sederhananya, kalimat tunggal terdiri dari satu klausa dan memenuhi syarat sebagai kalimat utuh. Kalimat tunggal memuat satu subjek, satu predikat, dan satu objek atau keterangan. Contohnya sebagai berikut:
Kita pergi tamasya ke Bali.
Mereka makan sate lilit.
Wali kota terpapar Covid-19.
Musik gamelan diputar oleh pegawai rumah makan.
4. Kalimat Majemuk
Sebagian besar kalimat majemuk, ditandai dengan kata penghubung atau disebut juga konjungsi. Jenis kalimat ini lebih kompleks karena memuat lebih dari satu klausa dan kalimat dasar. Menurut Dendy Sugono dalam Sintaksis Bahasa Indonesia: Analisis Fungsi Sintaktik (2019), kalimat majemuk diartikan sebagai kata-kata yang memiliki struktur kalimat yang di dalamnya terdapat beberapa kalimat dasar. Kalimat majemuk dibagi menjadi tiga, yaitu kalimat majemuk setara, bertingkat, dan campuran. Berikut penjelasan singkatnya:
1. Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara disebut juga kalimat majemuk koordinatif. Struktur kalimat di dalamnya terdapat paling sedikit dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal.
Contohnya sebagai berikut:
Ibu memasak rendang, acar bawang, sayur asam, dan tumis bunga pepaya.
Gina menerima telepon, mencatat pesanan, kemudian melaporkannya pada petugas di gudang.
Adik ingin bermain di lapangan, tetapi ayah tidak mengizinkannya keluar rumah.
2. Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang mengandung satu kalimat dasar yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu.
Contohnya sebagai berikut:
Pak Min datang menjemput ke sekolah, ketika saya dalam perjalanan menuju rumah.
Nadin janji membelikan boneka, kalau adik mendapat rangking satu di kelas.
Petugas KPPS menanggung risiko kematian yang besar, karena pemerintah mengadakan Pilkada serentak selama pandemi.
3. Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran merupakan gabungan penggunaan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.
Contohnya sebagai berikut:
Kerja bakti di desa dapat menumbuhkan semangat gotong-royong dan kekeluargaan, karena melibatkan seluruh warga.
Rendang perlu dimasak cukup lama, kemudian diaduk teratur, agar cita rasa khas dari rempah-rempah di dalamnya keluar.
Sekian dulu ya penjelasan dari Pak Guru. Semoga bermanfaat.
A


Comments
Post a Comment